Showing posts with label perempuan-perempuan. Show all posts
Showing posts with label perempuan-perempuan. Show all posts

Monday, November 19, 2012

...viva




Di sana, ada perempuan yang selalu menghapus kembali warna merah dari bibirnya setelah dengan sumringah mengoleskan lipstik berwarna merah nomor empat belas. 

“Warna merahnya hanya untuk dia seorang saja.”

Perempuan itu mulai mengoceh sendiri seperti gila. Ia melakukannya sejak kekasihnya meninggalkannya sebelas bulan lalu. O, bukan, ia melakukannya sejak kekasihnya diam membeku diantara kecelakaan kopaja di hari seharusnya mereka bertemu. Mengunjungi pantai dikala senja dan ia akan mendapatkan ciuman pertamanya.

“Dia tak bisa bangun lagi.” Kata seorang perawat berwajah galak dari satu rumah sakit negeri dengan bangunan masa Belanda yang tak lagi terawat.

Ia menyukai warna lipstiknya. Dibeli dengan harga diskon di swalayan tempatnya bekerja. Mereknya Viva.

Monday, January 30, 2012

...titik balik antara mimpi dan kenyataan (hasil menonton An Education)


 “The life I want, there’s no shortcut.” – Jenny Mellor

Jenny Mellor *ketika memutuskan untuk meninggalkan sekolahnya.

Siapa itu Jenny Mellor?

Dia adalah perempuan muda berumur tujuh belas tahun dari kelas menengah Inggris dan hidup sebagai bagian flower generation pada awal medio 60-an. Seperti setiap perempuan muda penuh mimpi, impian Jenny sederhana. Menjadi seorang perempuan berpendidikan lulusan Oxford, kelak akan mengunjungi atau justru tinggal di Paris –berbelanja, menikmati film dan musik bagus, menikmati seni kelas tinggi, dan memiliki suami mapan. Sempurna dan sederhana, kan?

Jenny hanyalah seorang siswa sekolah khusus perempuan dengan peraturan yang ketat, bermain cello, dan pemilik nilai tertinggi dalam kelas sastra (sastra Inggris), sekaligus memiliki nilai buruk untuk kelas latin. Tapi, bukankah setiap perempuan memiliki mimpi, yang dengan cara apapun, dia akan berusaha untuk meraihnya? Meskipun ia pandai dan sadar akan kepandaiannya, bukan berarti hidup Jenny tanpa tekanan. Apalagi, ayahnya begitu berambisi memasukan Jenny ke Oxford. Dengan dalih mahalnya biaya pendidikan, Jenny seringkali hanya diam melihat kekolotan ayahnya.

Dan, bagaimana jika pada satu hujan yang deras, seorang pria, yang bisa saja mewujudkan semua mimpi Jenny datang dalam hidupnya?

Bukan seperti Graham, teman dalam kelas cello yang menyukai Jenny, tapi seorang pria dengan segala hal yang bisa saja, memenuhi semua keinginan Jenny. Dia adalah David, seorang pria mapan, flamboyan, pintar, kolektor barang-barang seni, menyukai musik, dan yang pasti, mampu mewujdukan mimpi Jenny ke Paris.

Ketika David mampu menarik perhatian Jenny, - dan tentu saja David tertarik pada Jenny, pun berhasil menarik perhatian kedua orang tua Jenny yang kolot. David berhasil melepaskan Jenny dari diri seorang gadis SMA menjadi seorang perempuan yang dicintai. Jenny pun jatuh cinta. Jenny mendapatkan sesuatu yang ia mimpikan di masa-masa dewasanya kelak. Konser musik klasik, makan malam di restoran mahal, galeri seni, pakaian-pakaian indah, bepergian ke luar kota di akhir pekan, dan, tentu saja: Paris.

Parisssss....!!!!
The life that Jenny ever dream...
Bukan hal biasa bagi seorang Jenny dan latar belakangnya. Bahkan, bisa dibilang, Jenny tidak menyangka ia mendapatkan semua yang ia inginkan. Jenny menikmatinya. Itulah kehidupan yang ia inginkan, telah ia genggam. Hidup yang ia dapatkan dari seorang David. Maka, tidak menjadi luar biasa pula ketika Jenny memilih keluar dari sekolah ketika David melamarnya. Ya, Jenny lupa akan keinginannya masuk Oxford. Bahkan kalimat dari Miss Stubs, guru Sastra Inggrisnya dan kepala sekolahnya tidak ia pedulikan. Dengan bangga ia memamerkan cincin tunangannya. Baginya, inilah hidup yang ia impikan.

Maka, cerita dalam hidupnya menjadi lain dan akan berubah, ketika tanpa sengaja Jenny menemukan surat di dashboard mobil David. Malam itu, mereka sekeluarga akan makan malam bersama untuk merayakan lamaran David. Jenny diam dan menahan sesak meminta David mengantarkan mereka kembali ke rumah. Jenny tahu, ada yang salah dalam keputusannya untuk menerima lamaran David.

A girl, treated like a woman, a dream come true uh? *ini sebelum makan malam merayakan lamaran David.

“Mr. and Mrs. Goldman,” begitulah tertulis dalam amplop surat yang Jenny temukan. Ya, David ternyata sudah menikah.

Tapi David pecundang. Bukan lagi gentleman yang mewujudkan semua mimpi Jenny. Meski menyatakan akan menceraikan istrinya, nyatanya David tidak berani menemui kedua orangtua Jenny untuk memberikan penjelasan. Hidup Jenny berhenti. Tidak ada hidup indah seperti dalam mimpinya, dan ia, bukan lagi seorang siswa sekolah menengah.

Tentu kita tidak lupa bahwa Jenny bukan siswi bodoh. Dia adalah kandidat terkuat untuk belajar sastra di Oxford. Dengan rendah hati ia meminta kepala sekolahnya untuk diizinkan mengikuti ujian kelulusan. Sayangnya, ia tidak mendapatkan kesempatan itu. Saat itulah Jenny menyadari, tidak ada jalan pintas untuk mewujudkan hidup yang ia bayangkan. Ada tahapan-tahapan tertentu dalam hidup yang harus dilewati untuk menuju kehidupan dalam mimpinya itu.

Dan, salah satu tahapan itu adalah, pendidikannya. Oxford, bagi Jenny.

Inilah titik balik dimana Jenny sadar, ia justru mengacaukan hidupnya sendiri. Tapi tentu bukan seorang Jenny, ketika ia tidak mampu mewujudkan harapannya. Dengan bantuan Miss Stubs, gurunya, yang sempat ia anggap memiliki kehidupan membosankan, tapi, nyatanya memiliki kehidupan yang menyenangkan dalam standar Jenny.

Keberaninnya mendatangi rumah David dan melihat istri serta anak David, menemui kepala sekolah, menemui Miss Stubs, kembali membuka buku-bukunya, menuliskan esainya, berdamai dengan perasaannya sendiri dan dengan kedua orang tuanya, justru menjadi tahapan penting dalam kehidupan Jenny. Tahapan atau titik balik yang tentunya dimiliki oleh setiap orang. Di bagian inilah, emosi saya sebagai penonton diaduk-aduk dan ikut terseret mengikuti perasaan dan pemikiran Jenny.

Bagaimana kalau saya Jenny? Bagaimana kalau kita Jenny?

Apakah kita akan cukup berani menemui istri dari laki-laki yang jelas-jelas melamar kita? Memohon kembali ke sekolah padahal kita tahu pasti kita akan ditolak? Kembali belajar? Dan, kita melakukannya sendiri?

Saya membayangkan, jika itu adalah saya. Barangkali itu semua yang melakukan ayah saya, sementara saya menangis berhari-hari di dalam kamar. Karena begitulah budaya kita, orangtua selalu ikut campur dalam segala hal. Atau entahlah, karena itu adalah masalah Jenny, bukan saya.

Tapi Jenny nyatanya mampu membuat saya berfikir agak panjang. Apa yang terjadi di London, Inggris sana hampir lima dekade lalu, barangkali baru terjadi di masyarakat kita baru-baru ini, atau setidaknya satu atau dua dekade ini. Seberapa besar, kesadaran akan pentingnya belajar dan mengejar apa yang kita (perempuan) inginkan? Atau dalam hal lain, pilihan awal Jenny untuk memilih pernikahan dan kehidupan menjadi seorang istri masih menjadi pilihan pertama beberapa orang di masa kini, bahkan mungkin saya, jika dihadapkan pada kondisi yang sama. Ah, ini nglantur saja.

Karena sesungguhnya sejak pertama menonton film ini awal tahun lalu, saya jatuh cinta dengan karakter Jenny dan segala yang ada dalam film ini. An Education adalah film karya sutradara Lone Scherfig yang diproduksi pada tahun 2009. Cerita dalam film ini adalah kisah adaptasi dari memoir Lynn Barber, seorang jurnalis perempuan di Inggris, yang dimuat pada majalah Granta, sebuah majalah yang memuat cerita pendek.

Iya, ini adalah kisah masa muda Lynn yang diperankan dengan apik oleh Carey Mulligan. Dan bukan pilihan salah ketika mengadaptasi cerita ini menjadi film drama, yang bagi saya, sangat perempuan. Sosok David, yang diperankan oleh aktor Hollywood Peter Sarsgaard , pun mampu menarik hati untuk menjatuhkan pilihan padanya. Ketimbang “reading English”, istilah yang digunakan untuk menggambarkan tentang belajar sastra Inggris. Gambar dan dialog yang sederhana namun berisi menjadi poin lain, selain cerita dan karakter Jenny yang begitu kuat, yang menjadikan film ini menjadi film favorit saya, dan membuat saya menontonnya berkali-kali. Tapi baru ingin menuliskannya sekarang.

Secara pribadi saya memang menyukai film dengan karakter utama seorang perempuan yang kuat. Selain tampilan karakter yang kuat (akting si aktris), dan juga karakter yang digambarkan kuat. Dan di sini, Carey Mulligan berhasil menggambarkan karakter Jenny yang kuat dengan “kuat”. Membuat saya sekaligus menimbang: jika saya sekarang harus dihadapkan pada pilihan atas laki-laki atau menyelesaikan belajar saya. Saya akan memilih untuk menyelesaikan belajar saya, barangkali.

Dan tentu saja, saya tertampar sekaligus setuju, dengan kalimat “The life I want, there’s no shortcut.” Tentu saja, seperti nasihat banyak orang atau kata-kata bijak banyak orang, ada tahapan dan waktu tersendiri dalam hidup kita. Tentang menjadi apapun yang kita inginkan. Lalu saya percaya tentang adanya jalan yang berbeda dan kesempatan yang berbeda bagi tiap orang. Lalu saya teringat nasihat ibu saya, tentang menjadi “Sabar, ikhlas, dan legowo (berbesar hati)”. Maknanya hampir sama. Intinya, ketika kita melakukan sesuatu, mungkin kita akan melakukan kesalahan, tapi kita harus terus berusaha yang terbaik bukan, apapun hasilnya, kita harus menerima dan terus mengusahakan yang terbaik. Itulah sabar, ikhlas, dan legowo. Ibu saya lahir tahun 1967, ibu saya seorang Jawa tulen dan Muslimah tulen pula, bukan Jenny Mellor ataupun Lynn Barber, seorang Inggris dan Katolik, tapi mereka sama-sama perempuan. Dan, mereka sama-sama mengajarkan untuk menjadi seorang perempuan, yang kuat (?).

Aduh, saya kenapa ini?

Ini bukan review film, ini cuma curhat kok. Jangan bandingkan dengan tulisan di rumahfilm atau cinemapoetica. Saya menonton film ini dua kali dalam seminggu ini. Dan, mungkin, saya pernah mendapatkan semua yang saya inginkan sebelumnya. Tapi, pada akhirnya saya tahu, seperti halnya Jenny juga sadar di kemudian hari, tidak ada jalan pintas untuk semuanya. Termasuk setiap tahapan ketika kita berusaha menyelesaikan “those education things”. Inilah tahapan yang harus dilewati…

Bukan hanya oleh seorang perempuan, tapi oleh semua orang…

Kita, yang pernah bercita-cita ingin menjadi apapun, walaupun begitu membenci sistem pendidikan di kampus kita, semoga tidak pernah lupa untuk menyelesaikan ini semua. Ada baiknya kita selesaikan ternyata. Karena setelah ini, akan banyak hal yang lebih besar yang akan kita pelajari…

Ya, Jenny belajar di Oxford. Jenny melupakan kisahnya dengan David. Jenny memulai tahapan hidupnya tanpa jalan pintas apapun…

“So, I went to read English books, and did my best to avoid the spicy, spotty fate that Helen had predicted for me. I probably looked as wide-eyed, fresh and artless as any other student. But I wasn’t. One of the boys I went out with, and they really were boys, once asked me to go to Paris with him. And I told him I’d love to, I was dying to see Paris, as if I’d never been.”

Ini, Helen dan Jenny. Hellen itu semacam oh-wauw dan anggun banget kan??
*(Helen itu, dia pacar teman David, Danny. Mereka biasanya double-date gitu, tapi merahasiakan atau tepatnya tidak berani mengatakan kepada Jenny tentang status David yang sudah menikah. Helen, katakanlah, merupakan tampilan yang diimpikan Jenny juga, dia fashionable dan benar-benar gambaran perempuan anggun yang menyenangkan, walaupun agak bego dan menganggap belajar agak kurang pentin)

Kind a, move-on. Uh?

Dan, perempuan mana yang tidak ingin, sekedar menginjakan kaki di Paris, melihat lampu-lampunya, memakai Chanel No. 5 (yang asliiiiiii!!!!), dan, melakukannya dengan seorang laki-laki yang dicintainya dan mencintainya, dan dia yang mewujudkan itu semua…??? But wait, there will comes that time when you’ll get it all. Be patient.

Teretetetttt… mule ngayal! 

*anyway, saya lupa, dari siapa saya mendapatkan film ini. serius. ada aja di laptop saya. kandidat pertama, dapat dari sahabat dan abang saya Agung Purnama atau, dari seorang kawan yang addict film bagus, Ardyan M. Erlangga (Yandri) waktu dia berkunjung ke Solo. siapapunlah, terimakasih... :)

Saturday, January 28, 2012

...antara Summer Finn dan rambut panjang saya (untuk Vicky...) :)


Saya terdiam sebentar memegang rambut saya dan masih tetap memagang gunting. Apakah saya baru memotong rambut panjang saya? Ternyata tidak. Hanya hampir.

Entah kanapa, tadi pagi, sebelum mandi, saya ingin sekali memotong sebagian rambut saya. Saya pernah memikirkannya beberapa kali, tapi saya urungkan. Alasannya, sayang. Akhirnya, saya hanya melakukan hal biasa yang hampir selalu saya lakukan, yaitu memotong bagian poni saya ketika sudah jatuh menutupi mata atau terlalu panjang.

Iya, saya memotongnya sendiri. Terakhir ke salon rambut itu adalah sekitar dua tahunan lalu, waktu saya memotong bagian ikal rambut saya gara-gara sempat saya ikal beberapa tahun sebelumnya. Sejak itu, saya merasa agak tidak nyaman dengan salon rambut. Selain karena saya memang belum atau tidak menginkan bermacam perawatan atau pelayanan dari salon-salon itu. Dan saya semakin senang memotong-motong sendiri rambut saya.

Saya nggak sadar, rambut saya sepanjang ini. Walaupun tidak begitu tebal, tidak begitu sehat, dan kecoklatan. Percaya nggak percaya, rambut sehat itu adalah rambut yang belum pernah kena bermacam alat pemanas dan bahan kimia apapun. Karena sepertinya, jaman sma sebelum mewarnai rambut dengan warna cokelat tua yang sedang tren itu, rambut saya agak hitam. Sampai semalam, Leila, taman saya, dan beberapa teman sebelumnya bilang, kalau rambut saya panjang yah ternyata. Iya, ternyata iya. Lalu, paginya, saya pengen memotongnya beberapa centimeter.

Tapi tidak jadi.

Saya jadi ingat Summer Finn, yang katanya sangat mencintai rambut panjangnya, tapi juga senang mengguntingnya, dan begitu saja melupakannya. Dan dia juga agak kejam dalam hal relationship dan agak tidak punya perasaan. Saya jadi keinget beberapa orang  yang dengan lantang bilang kalau saya kayak Summer, dalam artian, agak-agak tidak punya perasaan. Bahkan, sahabat baik saya, Vicky, malah bilang, saya itu kayak Summer tapi saya nggak sadar, parah kan saya? Seakan-akan saya parah. Ya ampun. Serius, ini nggak seburuk itu. Itu hanya karakter dalam film.

Dan, saya, saya ternyata tidak senang menggunting rambut panjang saya, atau menggantinya dengan model-model tertentu. Karena ibu saya pernah bilang, kalau sudah sebesar ini, tidak perlu membuat potongan rambut yang aneh-aneh. Walaupun sebenarnya, dari dulu juga potongan rambut saya hanya lurus dan berponi. Saya kira saya bisa berubah lebih baik. Saya nggak se-nggak punya perasaan kayak Summer Finn. Dalam artian, saya bisa sayang sama rambut saya, walaupun rambut saya nggak sesempurna rambut mbak-mbak iklan shampoo, karena saya sadar, saya berusaha merawatnya sejak beberapa tahun lalu. Jadi, saya kira, saya nggak segitu nggak punya perasaannya kok… Kita hentikan Summer, karena ternyata saya sama sekali nggak mirip dia, karena saya tidak segampang itu memotong rambut panjang saya dan melupakannya. Oke.

Setelah memotong poni saya, tiba-tiba saya ingat satu kalimat dalam Gossip Girl, “Blonde and pony girl is kind a bitch…”. Saya nggak blonde, tapi saya pake poni. Ya ampun…

Ternyata dari masalah rambut saja, agak-agak kejam efeknya sama psikologis kita. Eh, bukan, saya… nah kan, nah kan... :D

Friday, January 20, 2012

...dear, you, nomero uno.


“Drop a penny throw a stone. I guess it’s time to let love” (Mighty Love – ZATP)

How beautiful, uh?

When you just let love and get love. Like, I see through one of my great friend’s face, her ‘full of love’ face. How wonderful everything could be, if you’re in love. If you know that, somebody, here, in front of you, he or she’s just love you. Oh, my, so you know that you can feel that atmosphere. And, that’s, so wonderful, too.

I’ve ever say about, being in a relationship, is being take a responsibility. And, being single, is 
about being take more responsibility. And, here we go… take that responsibility.

As we talking about:
“Hei, so, you’ll know, where is the great place about living and loving. When you’re in love. When you being someone’s. When you trying to knowing. That’s, live that flow. That will be great.” And, “Just thinking about something worth over there, not about something worst.”

Aih, aih, aih…

So, you know, why people in love? Cause, then, something could be better. And your face can’t hide that sweet-a-very-very-sweet smile. Happy for you dear... :) :) :)

Wednesday, January 18, 2012

...discount up to 80%


“Discount up to 80%”. Perempuan mana yang tidak berhenti, membaca, dan kemudian tersenyum setelahnya?

Perkara langkah selanjutnya adalah masuk ke dalam toko atau memilih mengabaikan, saya percaya, ini semua tergantung kadar keimanan tiap orang. Jika seseorang masuk, lalu membeli apapun yang di-diskon-kan itu, barangkali sebagian dari kita akan menyebutnya kalap atau sebagian yang lain akan bilang, “Kamu beruntung, bisa dapet potongan 80 persen.” Atau jika seseorang memilih untuk masuk, ikut terbawa suasana, tapi tidak membeli apapun dengan berbagai alasan, akan muncul dua komentar juga, pertama pasti dia memang tidak membutuhkan benda-benda diskonan itu, kedua barangkali dia memang tidak tertarik, meski kadang dalam perjalanan pulang akan terbesit semacam perasaan menyesal berlebihan, “Seandainya tadi aku beli…”. Terakhir, golongan orang yang tidak akan terlalu peduli dengan berbagai macam diskon, hanya ada satu alasan: dia hanya membeli apa yang dia butuhkan, berapapun harganya. Tapi akan lebih baik jika dapat diskon.

Itulah kenapa saya tidak terlalu suka ke pusat perbelanjaan jika memang tidak ada tujuan, karena iman saya lemah. Bisa dipastikan hingga batas 75%, jika ke pusat perbelanjaan saya bisa saja menenteng satu bawaan untuk dibawa pulang. Entah hanya sebatas bros kecil sampai kaos tidur, atau memakan makanan yang tidak perlu saya makan. Hingga akhirnya saya sadar, banyak hal yang tidak perlu saya beli pernah saya beli. Dan itu tidak boleh diteruskan. Pertama, itu tidak terpakai dengan maksimal. Kedua, banyak hal lain yang lebih saya butuhkan. Saya menyadarinya dalam setahun belakangan, dan, saya mencoba untuk tidak bodoh.

Atas dasar apa kita membeli sesuatu tanpa berfikir panjang, mungkin kita akan menjawab: lucu (teman saya pernah bertanya berkali-kali, “Atuna, tolong, definisikan lucu…”). Kedua, ada cukup uang di dompet atau kartu kita. Maka terjadilah, kita belanja berkali-kali, lalu menyadari berkali-kali, bahwa kita sudah memiliki hal yang sama tanpa terpakai dengan maksimal.

Walaupun saya dari dulu juga bukan golongan “shopaholic”, tapi entah kenapa, pada satu hari saya tersadar, saya memiliki beberapa tas dengan model yang sama. Jangan bayangkan saya punya ratusan tas, tidak, tapi tiba-tiba bagi saya itu menjadi berlebihan. Mungkin akan lebih baik jika saya membeli tas dengan model berbeda dan lalu saya bertanya, “Kenapa saya membeli tas yang sama padahal saya tahu saya sudah memiliki model serupa sebelumnya?” dan “Kenapa saya membeli tas, padahal saya tahu, masih ada tas lain yang bisa dipakai?”. Lalu saya punya jawaban, “Karena motifnya berbeda”, “Karena bahannya berbeda”, “Karena lagi diskon”, “Karena warnanya berbeda”, “Karena lucu aja…”. Lalu saya sadar, saya harus berhenti membeli tas pundak dan tas-tas macam apapun lainnya. Itulah wake-up call yang membangunkan saya. Selain kenyataan bahwa, bergant-ganti tas juga bukan hal yang akan menandakan hal baik dari diri saya. Dan, toh kebanyakan tas itu juga tidak terpakai.

Tapi, tetap, musuh terbesar adalah kalimat “discount up to 80%”.

Sebelum akhirnya, dari beberapa kali pengalaman, saya menemukan beberapa hal tentang ini, alasan untuk tidak tertarik penawaran diskon (berapapun): pertama, barang diskon, apalagi kalau bukan barang promo (produk baru), biasanya adalah produk sisa dengan kualitas rendah, apalagi kalau diskonnya sangat besar. Oke, akan ada yang bagus, tapi itu adalah satu banding sekian, kalau memang tertarik, memilihlah dengan culas, misal itu baju, perhatikan sampai detail jahitan dan ukuran. Kedua, jika itu adalah produk model terbaru, perhatikan harga dengan seksama. Akan ditemukan harga yang sama dengan barang serupa dengan range harga di kisaran sama. Misal, kita membeli celana merek Coolteen di kisaran harga normal antara 150.000 hingga 200.000, dan, pada harga diskon akan dinaikan hingga 400.000, benar? Dan ini juga berlaku untuk bonusan macam “beli 2 gratis 1”. Dua alasan itu cukup memberikan gambaran bahwa diskon itu menyesatkan.

Dan, akan lain cerita jika kita bisa menyesuaikan “kesesatan” diskon dengan kebutuhan kita. Akan lebih bijak jika kita memanfaatkan diskon dengan kebutuhan kita.

Misal, ehm, ingat diskon beberapa produk F&B dan toiletries di supermarket tertentu? Biasanya akan ada diskon atau bonus jika kita membeli satu set perawatan dari satu merek tertentu, ini bisa dimanfaatkan, karena biasanya, produk-produk itu akan melakukan semacam ‘branding’ per empat atau enam bulan sekali, sehingga memungkinkan mereka mengadakan promo, dan belilah produk dengan ukuran terbesar. Mungkin kita akan mengeluarkan uang lebih besar, tapi, produk ukuran besar akan lebih lama habis. Atau, justru, kalau tidak mau mengeluarkan uang terlalu besar dengan sekali belanja. Lakukan sebaliknya, belilah satu, hanya saja, belilah di warung atau eceran. Pertama, itu akan (terasa) lebih murah, kedua, kita akan membantu pedagang warung untuk terus menjalankan usahanya. Sesungguhnya, penjual di warung itu lebih manusiawi daripada supermarket. Mereka tidak memberikan janji-janji palsu macam diskon-diskon itu.

Atau, jika kita membutuhkan sesuatu dan belum mendesak, tahanlah keinginan mendapatkannya sampai musim diskon. Kapan musim diskon yang sehat? Bukan lebaran atau hari kemerdekaan, tapi akhir dan awal tahun. Kenapa, khusus untuk produk fashion, itu adalah akhir dan awal tren. Pertama, tren sebelumnya harus habis, nah, ini, bagi beberapa orang yang harus mengikuti tren mungkin bukan pilihan, tapi, kalau mau pintar, pilihlah produk yang lebih klasik. Kedua, awal tren memungkinkan adanya promo ‘new arrival’.

Tapi, pada akhirnya, kata “diskon”, “bonus”, atau “potongan” dan lainnya itu tetaplah akan menarik mata untuk sekedar membaca atau melangkahkan kaki memasuki toko. Tapi, pemilik kendali atas tangan kita yang akan menarik sejumlah uang atau mengeluarkan kartu adalah diri kita sendiri.

Kunci utama, yang tengah dicoba saya dan teman saya Intan adalah: pertama, kalimat “Butuh nggak, butuh nggak, butuh nggak?” Jangan hanya karena gelas berwarna kuning, lalu saya membelinya, padahal gelas saya sudah kuning. Dua, hindari komentar “bagus”, kalau itu nggak bagus. Patok standar kita, patok benda atau produk seperti apa yang paling “pas” dengan kebutuhan kita, apapun, termasuk merek sabun, mi instan, baju, tinta printer, atau bahkan gadget. Ketiga, buat list ketika akan belanja, terutama untuk barang-barang kebutuhan. Jangan sampai membeli kopi satu pak, padahal kamu nggak minum kopi. Keempat, patok budget. Berapa besar uang yang kita siapkan untuk sepasang sepatu, tentu ini akan berbeda tiap orang, dan pastikan angka yang kita pertaruhkan adalah yang tidak akan membuat kita puasa seminggu, hanya karena sepatu yang sama dengan yang pernah kita punya. Kelima, pergilah ke pusat perbelanjaan hanya ketika kita “butuh” sesuatu. Keenam, percaya diri. Kita pasti lebih tahu apa yang kita butuhkan ketimbang toko dengan merek apapun. Jangan percaya begitu saja pada penawaran mereka.

Tentu, ini juga adalah pesan untuk diri saya sendiri hasil mencoba belajar dari saya sendiri dan beberapa orang di sekita saya. Meskipun saya belum berhasil sempurna, tapi, prosentase keberhasilannya sudah “up to 80%”, loh. Mari kita coba lagi…