"Hai Mer...," teriak suara di balik telepon.
"Oke hai, Desi ni ya? Desi?" Jawab si Mer ini.
"Iya Mer...," si penelepon ternyata bernama Desi.
"Oke Desi, jadi Desi mau kasih surprisenya ke siapa nih Des?"
"Em, ke temen aku Mer, jadi dia ulangtahun hari ini..."
"Oke, jadi temen kamu ulangtahun yah?Dan, temen kamu namanya siapa nih Des?"
"Em, namanya Banu. Em, sebenernya nggak temen juga si, Mer..."
"Oke, Desi, jadi Banu ini siapa dong? Gebetan yaaah?" Mer meledek.
"Hhhi..." Desi hanya mengikik.
"Em, jadi, sobat muda, tadi Desi kirim email ke kita nih, mau bikin surprise buat, Banu ini, yang hari ini dia ulangtahun ke-25, bener Desi?"
"Yes..."
"Oke Desy, mungkin bisa diceritain Surprise Scenario kamu?" Tanya Mer ramah.
"Iya, jadi Banu ini temennya temen aku, tapi kita udah sering ketemu dan jalan bareng juga, dan hari ini dia ulangtahun, jadi aku pengen kasih kejutan aja, dengan ngucapin selamat di sini, gituuu..."
"Okai, Desi, cuma ngucapin selamat kah?" Goda Mer lagi.
"Em...iya, ngucain selamat aja, dan kasih doa lah..."
"Yakin nih?" Mer lanjut menggoda.
"Hhhha...."
"Kok malah ketawa?"
"Apaa yaaah?"
"Is there something special between you and Banu, maybe?"
"Ahahahaaaaaa"
"Oke, dan lu ketawa."
"Aaah, Mer...."
"Nggak, ya kan sapa tahu akan ada pesan lagi yang pengen kami sampein darling..."
"Hhhha, itu aja Mer..."
"Alright, agen Secret Surprise akan ngehubungi Banu sesuai nonor yang kamu cantumin di email, dan, anyway, Banu kira-kira udah bangun belum pagi ini?"
"Nggak tahu sih, kayaknya si belum, soalnya dia kan freelencer, jadi kayaknya bangunnua agak siang..."
"Oke deh, okke Desi, udah tersambung nih, sementara kamu off line dulu yah..."
"Tuuut....tuuut...he, hallo?" Suara seorang perempuan menjawab di balik telepon.
"Hallo, ini benar nomer Banu kah?" Tanya Mer sopan.
"Iya, benar. Tapi Banunya lagi di kamar mandi, ini dari siapa ya? Biar nanti saya sampein ke Banu?" Jawab perempuan di balik telepon.
"Em, ini saya Mer, mau tanya-tanya, saya ada project baru. Oia, maaf, sebelumnya, sekarang saya berbicara dengan siapa ya?"
"Oh, saya Cintia. Saya istri Banu"
Mer menarik nafas.
Produser di belakangnya berbicara dengan Desi.
"Des, gimana?"
Desi diam.
Mer berpandang-pandangan dengan produsernya.
"Oke Cintia, biar nanti saya telepon lagi ya, setengah jaman lagi mungkin?" Mer masih menahan nafasnya.
"Oke nanti saya sampein" jawab Cintia sebelum hubungan telepon terputus.
Si produser juga telah kehilangan telepon Desi, sang klien.
Mer kembali ke microfonnya.
"Oke sobat muda, seems like we are shock, isnt it? Hhhaaa...but its okai. Karena pagi memang selalu butuh kejutan, dan tiap hari harus dimulai dengan cerita-cerita mengejutkan. Nggak lucu kan, kalau tiap pagi kita kena macet dan nggak ada kejutannya? Then here we are, make your secret surprise. Buat kamu yang selalau suka surprise di pagi hari, Pumped Up Kicks by Foster The People, to kicks you, hei sleepyhead! Yuk ah semangat pagi ini!"
Mer saling berpandangan dengan produsernya. Menatap layar monitor dan membaca kembali email dari penelopin pertama dua jam lalu:
From: desi_marinasari@gmail.com
Subject: Secret Surprise
Hai Mer dan geng secret surprise, ak pengen kasih surprise buat, em, gebetan aku, Banu. Selain ngucapin selamat ultah, aku juga mau bilang kalau aku suka sama dia. Kita udah sering banget jalan bareng dan aku pengen jujur aja sih sama Banu ini. Oke Mer, help me...
Ini nomer Banu 0812315211333
Cheerss!!
Desi
Musik masih mengalun pelan. Mer dan gengnya di studio masih harus banyak-banyak minum air putih. Telepon berbunyi. Mer mengangkatnya.
"Halo Suaramuda" sapa Mer.
"Hah?"
"Halo?"
"Suaramuda? Radio Suaramuda?"
"Iya, ini siapakah? Mau request lagu mungkin?"
"O, enggak. Tadi nomer ini telpon saya, katanya ada project. Emang Suaramuda mau bikin project apa nih?"
"Ini dengan?"
"Banu"
Mer buru-buru minim segelas air lagi.
Showing posts with label Fuadiyah Kamil. Show all posts
Showing posts with label Fuadiyah Kamil. Show all posts
Wednesday, March 13, 2013
...morning boosters #1
Mario, ia tak melanjutkan sekolah
menengahnya. Bapaknya menamainya Mario juga bukan karena senang yang
ke-eropa-eropaan. Lengkapnya Mario Sumaryono. Bapaknya Jawa, ibunya Sunda.
Namanya khas Jawa, diulang ala orang Sunda. Setiap hari Mario membantu bapaknya
mengurusi peternakan bebeknya. Mereka memproduksi telur asin. Iya, telur asin
khas Brebes yang tersohor ke seluruh penjuru negeri itu. Daripada sekolah tapi
malah keseringan nongkrong di alun-alun, Mario berkomitmen untuk membantu
orangtuanya saja. Pagi memberi makan bebek-bebeknya, menggiring ratusan
bebeknya ke pekarangan luas berpagar di samping kandang, membersihkan kandang
dan mengambil ratusan telur siap olah, membawanya ke tempat pengasinan, dan
lalu membawa telur yang sudah diasinkan beberapa hari itu ke pemasok-pemasok
yang akan membawa sebagian besar telurnya ke Jakarta. Orang Jakarta suka telur
asin, katanya. Praktis soalnya, tinggal belah, sebutir telur kaya nutrisi nan
gurih siap dilahap bersama nasi hangat berkecap. Pulang dari pemasok, Mario
menggiring kembali ratusan bebeknya ke kandang. Setelah Ashar ia akan menata
bak minuman bervitamin bagi bebek-bebeknya. Bebek juga perlu vitamin, agar
rajin bertelur. Menjelang Maghrib, Mario bersiap ke langgar dekat rumahnya,
mengajari anak-anak kecil mengeja alif ba ta tsa jim. Lalu sholat bersama
diimami Haji Martoyo. Besok Mario harus bangun sangat pagi, jam delapanan Mario
sudah bersantai di depan tivi, menonton berita, film hollywood ber-dubbing,
atau ngikut ibunya melihat sinetron apa saja yang ada. Jam sembilanan Mario
sudah terlelap. Ia harus bangun sangat pagi dan melakukan tugas berarti setiap
pagi, setiap hari. Jam 4 pagi, wajah Mario sudah segar. Dadanya berdebar
kencang. Mario melangkah ke luar rumah. Mario mempersiapkan semuanya.
Mengumandangkan adzan Subuh selalu menjadi tak biasa, meski Mario telah
melakukannya bertahun-tahun ini. Inilah kenapa ia tak mau meninggalkan
kampungnya. Ketika tak lagi ada anak muda di sana dan Pak Kayim Sarmadi sudah
terlalu tua untuk menarik suaranya dan membangunkan warga. Mario selalu terharu
untuk melakukannya tiap pagi. Ia senang. Ia bahagia. Ia tak lagi dibangunkan
ibunya. Ia membangunkan satu kampungnya. Dan mungkin, juga ribuan bebek-bebek
di sana.
Sunday, February 12, 2012
...ojek payung
Tadi sore, kok, rasanya, itu adalah pertama kalinya saya memakai jasa ojek payung. Sepertinya iya.
Saya terjebak di PGS setelah mencari kain di Beteng. Nah loh? Pokoknya gitulah. Setelah mencari kain di Beteng, saya keinget pesen ibu saya untuk mencari sesuatu lainnya, lalu membelinya di PGS. Agak lama mencari tokonya, karena yang saya ingat hanya klu, “di bawah tangga”. Oyeyeyee… ada berapa tangga di PGS?? Hingga akhirnya ketemu, memilih, menawar (dan gagal), kesel, memilih lagi yang paling oke, saya beli. Pulang.
Dan, di luar hujannya deras sekali.
Saya duduk di tangga-tangga bagian depan PGS. Sendirian. Melihat banyak orang menawarkan jasa ojek payung. Saya berniat untuk menunggu hujan reda. Saya nggak mau kehujanan dan sakit. Sebenarnya saya agak heran, kenapa hujannya deras begini? Alasan saya memilih keluar siang, adalah karena beberapa hari ini Solo cerah ceria, bahkan hingga malam. Tapi tidak hari ini. Jam empatan itu hujan deras sekali. Saya nggak ngalamin mendungnya, mungkin mendungnya pas sejaman saya cari-cari toko mukena itu.
Saya memperhatikan para pengojek payung. Payung mereka bagus-bagus. Besar, sangat besar, warna-warni. Warna kuningnya paling menonjol. Dari atas saya bisa melihat warna-warnanya berputar cepat waktu payungnya diputar-putar. Ingat pelangi? Ingat kecepatan cahaya? Ingat asal-mula warna? Aha…
Saya jadi teringat satu bacaan, (saya lupa, ini fiksi atau fakta), tentang seorang anak yang ingin menjadi bos ojek payung di Jakarta sana. Dia akan menyimpan uang hasil mengojek payungnya, nanti dia akan membeli payung baru, lalu dia akan menyewakan payungnya ke teman-temannya yang lain, dan nanti temannya membagi hasilnya dengan dia. Lalu dia akan membeli payung baru lagi, dan teman-temannya akan lebih banyak lagi memakai payungnya dan membagi hasilnya dengan si anak itu. Tapi, karena saya lupa, ini fiksi atau fakta (sepertinya fiksi), sepertinya itu hanya terjadi dalam bayangannya, karena ketika dia melamunkan impiannya itu, dan menuju pusat perkantoran untuk mengojek payung, sepetinya si anak semacam tertabrak mobil. Sepertinya. Tadi, saya mencoba mengingat-ingatnya, tapi saya tidak berhasil mengingatnya, sampai sekarang.
Terus saya ingat satu bagian film di Belkibolang. Film pertama di Belkibolang, “Payung”. Si adik perempuan pengojek payung yang berpayung kuning dan terus menerus tersenyum riang ke Dwi Sasono, pekerja yang agaknya sore itu sedang kacau-balau-galau. Tapi si adik berambut panjang itu terus tersenyum tulus. Bahkan ada shoot adiknya melompat-lompat girang itu menyenangkan sekali. Film pendek itu minim kata-kata, tidak ada dialog malah. Hanya backsound menyenangkan, senyum riang si adik pengojek payung, dan muka kacau Dwi Sasono. Tapi, bagi saya kala itu, “Agung Sentausa, si sutradara berhasil menghilangkan kesan kotor, semrawut, ribet, dan becek perkampungan kumuh di Jakarta melalui gambar-gambarnya. Dia berhasil menggambarkan hujan Jakarta dengan indah, dari seorang mata gadis cilik pengojek payung.” (kutipan dari review film Belkibolang saya tahun lalu J). Dan, Dwi Sasono yang ikut tersenyum di akhir cerita.
Dan, hei, ojek payung itu nggak cuma di Jakarta kali yah? Ini apa saya yang baru sadar atau gimana? Sebelumnya di Grand Mall ada juga ojek payung gitu, tapi, bapaknya rapi-rapi gitu, emang pelayanan dari GM sampai parkiran mobil yang di seberang jalan depan deh kayaknya, jadi biasa aja bagi saya.
Masih dari tangga paling atas saya melihat seorang anak laki-laki yang riang ke sana- ke mari menawarkan ojek payung. Dan, entah kenapa, sejauh saya melihat, sepertinya anak itu selalu berhasil membuat beberapa ibu-ibu dan embak-embak untuk memakai payungnya. Dia menyerahkan payung besarnya (besar bangettt) ke pelanggannya, terus dia memakai caping. Larinya ringan. Sepertinya dia senang hujan datang dan dia akan mendapatkan tambahan uang. Dan, dia satu-satunya anak-anak di sana.
Hujannya awet. Dan memang awet sampai saya menulis catatan ini di jam sembilan, dan hujan belum reda.
Saya melihat jam tangan saya, sudah jam lima kurang seperempat. Sudah sekitar satu jam saya duduk. Dan saya harus segera menjemput teman saya jam limaan. Saya harus pulang. Menuju beteng terlebih dahulu, tentunya. Saya menunggu si anak laki-laki itu, saya pengen tahu namanya. Saya pengen tahu, dia kelas berapa dan sekolah di mana. Saya pengen bilang ke dia, “Habis ini jangan lupa mandi dan keramas yah, biar nggak sakit.” Saya pengen satu payung sama dia, biar dia nggak usah pake capingnya. Tapi dia nggak juga datang, dan saya harus segera pulang.
Saya mengikat rambut saya, menyatukan belanjaan saya dalam satu kresek. Turun ke bawah. Si anak nggak kelihatan. Sebelum seorang bapak menawari saya ojek payung, “Cuma tiga ribu mbak, ke beteng mbak?” katanya. Akhirnya saya bersama bapak itu. Saya tidak mungkin menolaknya (aih). Si bapak menyerahkan payung abu-abu besarnya ke saya, sementara dia memakai mantel panjang berwarna hijau dan bercaping. Tadinya gagang payungnya si bapaknya juga yang pegangin, tapi agak ribet yah, akhirnya saya meminta untuk memegangnya sendiri. E, malah setelah itu, tahu saya kesulitan memegang tas dan plastik belanjaan saya yang agak besar, si bapak membawakan belanjaan saya. Hhmmm…
Kami ngobrol loh. Dia cerita tentang kampungnya di Mojosongo, yang merupakan relokasi dari Sangkrah oleh wawali beberapa tahun kemarin. Kata dia, kalau boleh milih, dia lebih nyaman tinggal di Sangkrah daripada di Mojosongo. Karena di Mojosongo jalannya turun naik (saya nggak ngerti juga itu yang di mana?). Sayangnya, Sangkrah, kampung lamanya, pasti kena uapan dari Bengawan Solo tiap musim hujan seperti sekarang ini. E, tapi, bukannya emang Sangkrah itu emang bantaran Bengawan Solo yah? Gitulah…
Sampai saya mau pulang dan harus memberikan tiga ribu haknya. Bodohnya saya, saya hanya mempunyai dua puluhan ribu dan dua ribuan. Dilema? Agak. Oh, bukan, iya. Karena bapaknya bilang, dia tidak punya kembalian. Dan, saya nggak bisa ikhlas memberikan uang kembalian dari dua puluh ribuan itu, sebelum saya mencari-cari lagi di tas, dan menemukan dua ribuan itu tadi, dan bapaknya bilang, “Yaudah, mbak Diyah, dua ribu saja, ndak pa-pa.” Lalu bapaknya menasihati tentang, hati-hati waktu menyebrang di rel, dan di jalan, karena pasti akan banyak air menggenang.
Ini agak memalukan dan mengganggu sebenernya. Sambil pulang saya semacam doa, semoga si bapak sore ini dapat banyak pelanggan yang memanfaatkan jasa ojekannya. Tapi, pernah nggak sih, kita ditolong sedemikian rupa, tapi kita nggak bisa lebih berbesar hati gitu? Atau emang saya aja, yang nggak baik hati gitu kali yah? Ah, entahlah. Ntar malah jadi polisi moral. Mungkin emang saya aja yang pelit, itu uang dua puluh ribu itu kan uang makan saya.
Tapi, ketika si bapak, yang lupa saya tanyai namanya tersenyum dan bilang hati-hati ke saya, saya kira, si bapak tengah bersyukur. Semoga. Semoga. Saya lupa tanya namanya, padahal dia menanyakan nama saya siapa dan saya tinggal di mana, sejak awal mulai meninggalkan PGS dan berjalan sekitar lima ratusan meter menuju Beteng. Dan, satu lagi, kata dia, kalau langit ketika hujan itu putih merata (agak abu-abu gitu si), itu berarti hujannya akan lama sekali redanya. Dan, dia benar, sampai sekarang hujannya belum juga reda.
Coba tadi saya menunggu hujan reda, saya masih duduk bego di tangga paling atas depan PGS.
Saturday, February 4, 2012
...horre.yess!!
Mari berpisah dengan setan kecil yang diakhir cerita membuat saya jatuh cinta –secinta-cintanya. Berpisah, untuk nantinya bertemu setan-setan kecil ataupun setan yang lebih besar lainnya.
---
Waktu itu masih sekitaran pukul tujuh pagi, dan saya masih membuka laman writelonger untuk memantau timeline di twitter tanpa keinginan untuk nge-twit ataupun me-retweet. Setelah selesai mengepel kamar yang agak lengket dengan minyak dari martabak telur yang dipindah ke kardus. Sejam sebelumnya, bersama Syauqi, kita mengambil makanan, sarapan soto lamongan yang ternyata enak, dan menyiapkan kotak makanan. Tepatnya, Syauqi yang menata, saya hanya mengamati.
Setengah delapanan, saya membuka dan mengamati salah satu file presentasi, hanya mengamati. Lalu menonton terusan episode Grey’s Anatomy yang belum selesai semalam sebelumnya, sambil sedikit membaca kertas contekan presentasi. Satu episode selesai, saya berniat membangunkan Nindya, yang ternyata sudah bangun. Lalu kita sedikit bercerita tentang sesuatu hal, hingga kita menyudahinya lalu bersiap mandi pagi.
“Dan kamu baru mandi?” tanya Syauqi, ketika mendapati saya baru keluar dari kamar mandi. Tentu saja saya cuma mringis-mringis. Dan lalu saya bergegas menyiapkan pakaian dan melakukan sesuatu lainnya. Saya tahu Leila sudah datang juga. Lalu mereka ke kamar saya. Berdiskusi antara memakai ikat pinggang yang mana, tapi kembali pada lebih baik tidak memakai ikat pinggang saja. Antara semacam dandan atau tidak, saya memilih untuk tidak saja. Antara membiarkan rambut saya tergerai atau semacam diikat atau dicepol, aduh, udah, digerai saja.
Sebelum saya melakukan tindakan bodoh selanjutnya yang membuat Uqi naik pitam, yaitu, ketika semuanya sudah siap, dan dengan bodohnya, saya tidak segera mematikan laptop saya, tetapi malah berucap, “Bentar, aku pengen dengerin satu lagu ini dulu.” Waktu kedengeran “little by little”-nya Oasis. Hhiii… :D
“Diyah, ini tu udah jam berapa?” kata bundo. “Jam sembilan seperempat,” kata saya. “Kamu tu belum nelpon pak Widy loh, dia kan bangunnya siang. Kamu tuh…!” Leila diam. Saya senyum-senyum sambil cepat-cepat mematikan laptop dan mencabut segala kabel, sebelum akhirnya kita berangkat menuju kampus.
Iya. Saya malah tidak deg-degan sama sekali. Sudah tidak deg-degan sama sekali. Sudahlah, toh saya sudah dihabisi Fauji sore sebelumnya. Yang presentasi saya tidak lancar lah, yang saya nggak fokus lah, yang saya nggak harus ngomongin beberapa hal lah. Jadi, saya kira semuanya akan baik-baik saja. Menemui dua penguji saya yang sudah datang. Membalas sms satu penguji saya yang entah di mana, (saya tidak perlu menelpon dia, karena dia sudah sms saya duluan).
Dan, iya, saya ujian.
Begini, saya sudah menduga kalau presentasi saya pasti akan lancar dengan sendirinya. Karena sudah terbukti dari kapan tahun, kalau kepepet dalam kondisi yang memaksa saya harus maksimal, pasti akan maksimal. Seperti saya juga sudah menduga, saya akan banyak omong di sesi tanya jawab dan juga menjawabnya dengan amat santai dan penuh tertawa nggak mutu. Saya perlu dipaksa pada kondisi yang memaksa demikian, atau saya akan bertingkah konyol selamanya. Jadi, semuanya baik-baik saja.
Termasuk bonus tidak terduga di akhir ujian, iya, saya boleh lulus secepatnya. Sebenarnya ini yang saya pikirkan sejak dua hari sebelumnya, pasca ujian Chrisna, karena dia berhasil membuat pengujinya meluluskannya sebelum tanggal dua. Hhaa.. iya, tanggal tiga itu terakhir pembayaran SPP dan pendaftaran wisuda. Saya juga berfikir tentang itu. Sepertinya menyenangkan karena saya akan sengat ‘gelo’ kalau harus membayar SPP padahal saya sudah ujian.
Dua hari sebelumnya, ketimbang memikirkan materi, saya malah belajar bagaimana caranya ngomong ke penguji agar saya tidak perlu membayar SPP, yaitu minta tandatangan mereka untuk semacam surat kelulusan. Tapi, ternyata, latihan saya tidak beguna, karena sebelum saya menyampaiakan, mereka justru sudah menyatakan siap meluluskan saya. Pun kata mereka, karena revisi saya tidak terlalu banyak (orang congkak masuk surga! Amin :p) –cuma satu, tapi serius, ini saya aja mikir beneran, dan bapaknya maunya membahas seminggu setelah ujian, jadi sekarang saya benar-benar jobless yang sesungguhnya, menyedihkan!
Sebelum akhirnya saya lulus loh. Saya juga nggak ngerti, kenapa bisa semudah ini? Atau, emm, bukan, kenapa saya bisa seberuntung ini? Ah, sudahlah, karena memang saya beruntung aja. :D (lalu saya lupa momen tertekan mengerjakan skripsi, jalan-jalan untuk melupakan skripsi, ngomel karena ditinggal liburan dosen, nangis karena dibentak dosen, menunggu satu dosen di kampus sampai setengah lima, kesal karena ternyata printer saya sempat error, sebel karena ternyata harga kertas naik empat ribu, deg-degan menunggu nama penguji sambil berdoa semoga-semoga-semoga… dan seterusnya. Saya lupa tentang semua itu)
Okai, anyway, mari melakukan sesuatu dalam rangkaian menyelesaikan segala macam hal untuk melepaskan diri dari kampus ini. Revisi akhir, dan mengurus bermacam surat, dan melunasi bermacam hal. Semoga masih bisa mempersiapkan diri untuk melakukan nubuat setelah lulus yang sudah saya (dan beberapa teman) rancang jauh-jauh tahun… jalan-jalan. Tapi sepertinya dua kawan baik saya itu sudah punya aktivitas rutin, jadi mungkin saya akan mencari kawan lain yang juga mau jalan-jalan atau jalan-jalan sendirian. Uyeih. (ketahuan banget malesnya kan? Bukannya melakukan sesuatu untuk menyiapkan diri sebagai pekerja atau bekerja untuk diri sendiri seperti yang teman saya lakukan, malah menyiapkan jalan-jalan).
Dan tentu saja, saya ingin berterimakasih pada banyak orang yang membantu saya menyelesaikan skripsi saya. Hai, kalian semua, terimakasih. Kalau pernah, sekedar saya banyak ngomel atau sedikit mengajak diskusi, terimakasih. Apalagi yang kasih-kasih saya buku atau nganter saya cari/beli buku, terimakasih. Walaupun porsi terimakasih terbanyak tetap pada kedua orangtua saya, yang tidak pernah memaksa saya menyelesaikan skripsi, karena tahu kemampuan anaknya yang agak-agak yah, dan tidak pernah berhenti mengingatkan dan menyemangati, karena mereka tahu, saya membutuhkannya, maturrr sembaaah suwuuuuun... *kangen. Uhui.
Selanjutnya, saya juga ingin berterimakasih untuk semua orang yang menjadikan satu hari kemarin itu begitu sempurna. Tiga penguji saya (Pak Risno yang sangat ke-embahan, Pak Eko yang sangat kebapakan –maaf pak, saya sering maki-maki bapak sebelumnya, dan pak Widy yang gosipnya susah bangun pagi tapi ternyata sangat filosofis), plus Mas Budi yang banyak membagi senyum selama persiapan sidang bahkan sampai sekarang. Syauqi, hhaaaa, yang membentak saya dan mukanya langsung galak waktu saya bilang saya pengen nyelesein satu lagu Oasis, hhhaaa.. cup, cup, kamu emang bener-bener the legend of seksi konsumsi, juga Leila dan Nindya. Terus, Vicky dan Adi, yang juga banyak membantu dan datang, heiho… kalian, akhirnya ngampus juga. Mas Chrisna yang menginspirasi untuk mengusahakan bagaimana caranya biar segera (di)lulus(in) (upssss..!). Fauji yang menguji saya terlebih dulu, tetep galak walaupun sudah saya sogok mie ayam terenek di Surya. Dan tentu saja, semua teman-teman, agak banyak sepertinya, haiiiiii… teman-teman kompi, mbak-mbak dan mas-mas yang kebetulan ketemu di kampus, teman-teman LPM Kentingan, dan, tentu saja… Diah, salah satu kawan terbaik saya, yang rela jauh-jauh datang dari Jogja dan nemenin saya makan es krim setelah ujian selesai. Dan, oia, mas Pondra yang ternyata ujian tentang Bright Eyes di hari yang sama… seenggaknya saya ngrasa kalau ada orang yang senasib sama saya. Terimakasih semuanyaa… semoga kalian bahagia dunia-akhirat. Amin.
Oia, Herka dan Maulana, yang motret semua foto ini. Saya nggak tahu, yang mana foto Herka, yang mana foto Maulana. Kalau di foto ada Herka, mungkin yang moto Maulana, kalau di foto ada Maulana, mungkin yang moto Herka. Begitulah.
Sudah ah. Mari ngepel dan makan indomie dan bermain-main dengan semut.
Karena tiba-tiba saya ingat tentang: ndaftar wisuda itu ribet. Bikin skl itu ribet. Ngurus ijazah itu ribet. Foto ijazah harus sanggulan (ini cuma kampus saya atau semuanya sih? Akal-akalan banget deh). Dan, tentu saja, wisuda itu juga harus sanggulan dan berarti nanti akan terjebak pada memakain kebaya sekseh dan pakai high-heels. Sumpah, ini lebih mengerikan daripada ujian, walaupun saya nggak tahu, kapan saya wisuda.
*maaf kalau tulisan ini agak menyebalkan. :)
----ini adalah beberapa foto jepretan Herka Yanis dan atau Maulana Surya:
Penguji:
![]() |
| Pak Eko, Pak Risno, dan Pak Widy |
Yang mereka lakukan ketika saya ujian (hemmm...):
| Intan, Kenyot, dan Ajeng |
![]() |
| Atas: Tommi, Herka, Riza, Nanda, dan Harjok Bawah: Lala, Fauji, Vicky, Handa, dan Dino |
Perbedaannya: difoto atas ada Shinta, Kenyo, Amin, Tommi, Nana dan Kiky. Di foto bawah ada Vicky, Agnes, Yonanda, Ajik, Amal, Zulfa, Leila, Herka dan Mayang. Persamaannya: dua Ajeng (Kartikarani dan Kartikasari) nongol terus.. :p
Lalu, saya pun keluar dan bergabung, uyeih!
***Dan, saya nggak ngerti dengan dua foto ini, apakah semacam cek kemampuan fotografinya Herka dan Maulana, sementaraa Tommi jadi modelnya? Hmmm....
Thursday, February 2, 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)


